Tauhid Ahlussunnah Waljamaah

Jumat, 21 Januari 2011

Kedua Imam ini terdapat banyak persamaan yang mendasar dalam masalah Aqidah,dan tersebut dalam kitab “Ihtihaf sadatul Muttaqin” karya "Sayid murtadha alhusaini az zabidi" yaitu kitab syarah dari “Ihya ulumudin” karya Imam Ghozali, pada zilid II hal 6 yaitu :

إذَا أطلق أهلُ السنة والجَماعة فالمراد بِهِم الأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ
Apabila di sebut kaum Ahlu sunnah Wal’jama’ah,maka maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti Rumusan faham Al Asy’ari dan Al Maturidi.

Pokok-pokok pemikiran Imam Al Maturidi :
1.Masalah Iman :

Iman adalah ikrar dengan lisan dan tashdiq di dalam hati,serta ikrar itu adalah bagian dari iman.

2.qodlo dan qodhar dalam hubungannya dengan perbuatan manusia:

Kemauan manusia itu sebenarnya adalah kemauan Allah,akan tetapi perbuatan manusia itu tidak selamanya sesuai dengan kehendak Tuhan,sebab dia selalu menghendaki yang baik,bukan yang tidak baik.dan ini adalah prosedur akal saja sebab baik buruk adalah semua dari Qudrat dan iradatnya Allah Ta’ala

3.tentang sifat tuhan :
Sifat tuhan adalah sifatnya tidak perlu di permasalahkan lagi.

Pokok –pokok pikiran Imam Al Asy’ari :
1.Masalah Iman :

Tashdik di dalam hati di ikuti dengan perkataan dan di buktikan dengan perbuatan.

2.qodlo dan qodhar dalam hubungannya dengan perbuatan manusia:
Di rumuskan dalam bentuk pertanyaan :
Apakah perbuatan manusia di ujudkan oleh Tuhan atau oleh Manusia itu sendiri :
Yaitu qodlo sifatnya qodim yaitu kehendak yang Azali,sedangkan Qodhar sifatnya adalah hudus/baru yaitu ,wujud pekerjaan manusia itu,Dengan kata lain terwujudnya perbuatan manusia adalah atas Qudrat dan Iradatnya Allah Ta,ala.

3.Sifat dan dzat Allah Ta’ala
Imam Asy’ari menetapkan adanya sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang tercantum dalam Alqur’an dan Sifat Allah bukan dzat Allah.Dzat Allah adalah tidak butuh kepada Dzat lain dan tidak butuh kepada yang menjadikan,sifat Allah adalah sifat yang qodim.

dalam kancah sejarah Abu Hasan Al-Asy’ari lebih di kenal daripada Abu Mansur Al Maturidi. Padahal hakikatnya baik Al-Asy’ari maupun Al-Maturidi merupakan dua pembesar Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Ketidak populeran Al Maturidi dibanding dengan Al Asy’ari dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya :

1.Para Sejarawan tidak mencantumkan pada tarajum-tarajum karangannya. Diantaranya yaitu Ibnu Al Nadim (379 H/987M) yang wafat 50 tahun setelah wafatnya Al Maturidy. Padahal ia mencantum Imam Attahawi dan Imam Al Asy’ari. Demikian pula sejarawan yang lain seperti Ibnu Kholikan, Ibnu Al ‘Amad, Assyafadi, Ibnu Khaldun pun tidak mencantumkannya dalam muqoddimahnya dalam ilmu kalam. Begitu pula Jalaludin Assuyuti tidak mencantumkanya dalam tobaqot al mufassirin, padahal Al Maturidi disamping seorang mutakalim dia juga seorang mufasir.

2.Faktor geografis.Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Al Maturidi hidup di Samarkan yang jauh dari Irak yang saat itu merupakan pusat perkembangan Islam dan disaat yang sama Al Asy’ari mulai memperkenalkan ajaran-ajarannya disana.
Asya’irah dan Maturidiyah merupakan dua teologi Islam yang legendaris yang masih eksis hingga saat ini, yang kita kenal dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Aliran Maturidiah banyak dianut umat Islam yang bermadzhab Hanafi sedangkan Asy’ariyah banyak dipakai oleh umat Islam Sunni lainnya. Oleh karena itu tidak heran jika kita mendengar NU kita dengan ASYTUR (Asy’ariyah Maturidiyah).

Lihat juga"latar belakang Ahli sunnah waljamaah"
:http://invasi.blogspot.com/2009/03/ahli-sunnah-waljamaah-title-ahli-sunah.html

0 comments

Posting Komentar